Skip to main content

Posts

PUISI : AR RO'UUF (SANG MAHA PEMANCARI KASIH SAYANG)

Akhirnya kumengerti bahwa apabila di panggung kehidupan ini Engkau letakkan kejadian yang membangkitkan amarah dan benci : itu adalah peluang bagiku buat memperoleh rasa cinta yang tertinggi. Akhirnya kumengerti bahwa apabila muncul di hari-hariku sesuatu yang merangsang pamrih dan dengki : itu adalah kesempatan bagiku untuk mengolah pengabdian sejati. Akhirnya kumengerti bahwa apabila ditampar aku oleh peristiwa yang menumbuhkan sikap kejam dan tangan belati : itu adalah anugrah bagiku untuk belajar menggenggam cinta kasih yang paling murni. Dan akhirnya kumengerti, Kekasih, akhirnya kumengerti, bahwa apabila pada suatu hari Engkau buta gelapkan pandanganku : tak lain itu adalah isyarat agar aku tak lupa  memohon pencahayaan matahari-Mu. Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AFUWW (YANG MAHA MENSUMBERI PEMAFAAN)

Allah menggariskan suatu cara bergaul yang amat lembut dan agung antara Ia dengan sekalian hamba-hamba-Nya Telah ditetapkan-Nya  bahwa akan dihapuskan dosa-dosa kita, diminta ataupun tak diminta. Pertama karena tak seorangpun bisa terlepas dari dosa, Kedua kalaupun ada seorang hamba yang mampu hidup tanpa dosa, Ia tetap bisa memberi maaf kepada sesuatu yang selain dosa-dosa, yang entah apa, tetapi Ia dengan amat mudah mengarangnya. Dan ketiga,  peristiwa memaafkan itu sendiri adalaha suatu adegan kesenian yang paling tinggi tingkat mutunya. Seandainya kita memohon maaf atas segala kesalahan kita, itu bukan karena Ia hendak memamerkan kekuasaan dari harta-Nya  dengan cara memahalkan atau memurahkan pemaafan-Nya melainkan karena Ia tahu memohon maaf kepada-Nya  adalah kebahagiaan mutlak bagi batin kita. Dan seandainya  kita tak meminta maaf kepada-Nya, akan tetap dimaafkan-Nya juga kita, agar sesu...

PUISI : AL MUNTAQIM (YANG MAHA MENETAPKAN BALASAN)

Orang yang merasa dipenjara oleh siksa dunia, terbiasa menggumamkan puja puji bagi Tuhan, karena keadaan yang terasa menyiksa  dalam kehidupan, sebenarnya bukanlah siksaan. Orang yang merasa dibebaskan dari penjara milik kaum tiran, memperbanyak istighfar kepada Tuhan dan memohon perlindungan supaya terpelihara pengetahuannya atas penjara yang sesungguhnya. Orang yang menyaksikan bencana alam, menghayati peristiwa-peristiwa yang dianggap merupakan pernyataan  dari amarah Tuhan, memperbanyak sembahyangnya agar ia tak terlalu mudah menyimpulkan yang dilakukan Tuhan. Orang-orang itu, dengan rendah hati, mengembangkan pengertian, bahwa kebaikan dan keburukan, bahwa pahala dan siksaan, tidak bisa dipahami  tanpa terus menerus memohon petunjuk kebenaran dari Tuhan. Orang-orang itu mengetahui bahwa siksaan yang sejati terjadi di neraka, dan pahala paling murni berada di sorga : yakni suatu tempat dan masa di m...

PUISI : AL MUTA'ALY (YANG MAHA MENINGGIKAN)

Tak berani kuucapkan kata apapun yang menyangkut ketinggian-Mu wahai Yang Maha Meninggikan, kecuali dalam keadaan bersujud dan dengan suara yang selirih-lirihnya Sekurang-kurangnya  dua kali tujuh belas kali dalam sehari : ketika itu mataku terpejam, segala kesombongan terbungkam, keningku menempel ke bumimu, membuat seluruh eksistensiku jadi debu Siapakah aku sehingga berani menatapkan muka kepada-Mu, sehingga memiliki keberanian untuk mengangkat bah dan menengadahkan dada di hadapan-Mu? Wahai tamparlah mulut hamba, wahai campakkan hidup hamba sampai terkeping-keping, wahai cabik-cabiklah jiwa raga hamba jika shalat tak membuat hati hamba  berruku' dan bersujud kepada-Mu Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Apa gerangan arti  Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Jika tak karena hamba adalah kerendahan  di tempat yang serendah-rendahnya? Maha Suci Engkau apakah gerangan makna Maha Suci Engkau, kala...

PUISI : AL WAALIY (YANG MAHA MEMBERIKAN PERLINDUNGAN)

Seorang raja  yang berhasil memelihara kekuasaannya dalam waktu yang lama, menyangka bahwa ia telah lolos dari pengawasan Tuhannya. Dan orang yang berada di bawah singgasana, yang hidup terjerat lehernya serta didesakkan ikat pinggangnya, meratapi Tuhan yang mereka kira telah meninggalkannya.  Bagi Tuhan  kehidupan ini jauh lebih kecil dari debu yang sekecil-kecilnya dan lebih singkat dari satu kejapaan mata, tetapi kemerdekaan  yang diluangkannya bagi manusia lebih luas dibanding seribu cakrawala. Maka setiap raja selalu paling malang nasibnya, karena tak pernah bisa ia karib dengan dirinya, sehingga tak cukup keringatnya untuk berlari ke Tuhannya Sedangkan orang-orang  yang barisan kepala-kepala mereka dijadikan alas permadani di halaman istana, cukup hanya membisu saja untuk terbawa ke Istana yang sebenarnya. Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AAKHIR (YANG MAHA AKHIR)

Adakah engkau pikir Ia, Sang Maha Akhir Di satu titik, akan berakhir? Kata akhir hanya sebuah tanda Ujung pembayangan kita Akhir kita : selesai Sedang Akhir-Nya abadi Adakah engkau kira Awal dan Akhir Bagi-Nya berbeda? Awal mula Tak terletak di dahulu kala Dan Akhir Bukan di kelak sana Waktu bisa berpangkal ujung Tapi Ia, mengatasi segala hukum Tak seperti akhir kita yang fakir Akhir Allah bukan akhir Akhir Allah Tak Berakhir Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AWWAL (YANG MAHA AWAL MULA)

Sebelum apa pun ada Dialah awalnya Sebelum awal ada Dialah mulanya Dan sebelum mula tiba Dialah pendahulunya Sang Maha Awal Lebih Awal Dari Paling Awal Paling Awal Dari Paling Awal Jauh Lebih Awal Dari Paling Awal Jauh Paling Lebih Awal Dari Maha Jauh Paling Lebih Awal Gelap pandangan kita! Lenyap jejak kaki-Nya! Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"