Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2018

PUISI : AL MUTA'ALY (YANG MAHA MENINGGIKAN)

Tak berani kuucapkan kata apapun yang menyangkut ketinggian-Mu wahai Yang Maha Meninggikan, kecuali dalam keadaan bersujud dan dengan suara yang selirih-lirihnya Sekurang-kurangnya  dua kali tujuh belas kali dalam sehari : ketika itu mataku terpejam, segala kesombongan terbungkam, keningku menempel ke bumimu, membuat seluruh eksistensiku jadi debu
Siapakah aku sehingga berani menatapkan muka kepada-Mu, sehingga memiliki keberanian untuk mengangkat bah dan menengadahkan dada di hadapan-Mu? Wahai tamparlah mulut hamba, wahai campakkan hidup hamba sampai terkeping-keping, wahai cabik-cabiklah jiwa raga hamba jika shalat tak membuat hati hamba  berruku' dan bersujud kepada-Mu
Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Apa gerangan arti  Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Jika tak karena hamba adalah kerendahan  di tempat yang serendah-rendahnya? Maha Suci Engkau apakah gerangan makna Maha Suci Engkau, kalau bukan karena ketinggian adalah kesucian, sebagaimana kerendahan hamba adalah semata-mata kehinaan?
Wahai gerta…

PUISI : AL WAALIY (YANG MAHA MEMBERIKAN PERLINDUNGAN)

Seorang raja  yang berhasil memelihara kekuasaannya dalam waktu yang lama, menyangka bahwa ia telah lolos dari pengawasan Tuhannya.
Dan orang yang berada di bawah singgasana, yang hidup terjerat lehernya serta didesakkan ikat pinggangnya, meratapi Tuhan yang mereka kira telah meninggalkannya.
 Bagi Tuhan  kehidupan ini jauh lebih kecil dari debu yang sekecil-kecilnya dan lebih singkat dari satu kejapaan mata, tetapi kemerdekaan  yang diluangkannya bagi manusia lebih luas dibanding seribu cakrawala.
Maka setiap raja selalu paling malang nasibnya, karena tak pernah bisa ia karib dengan dirinya, sehingga tak cukup keringatnya untuk berlari ke Tuhannya
Sedangkan orang-orang  yang barisan kepala-kepala mereka dijadikan alas permadani di halaman istana, cukup hanya membisu saja untuk terbawa ke Istana yang sebenarnya.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AAKHIR (YANG MAHA AKHIR)

Adakah engkau pikir Ia, Sang Maha Akhir Di satu titik, akan berakhir?
Kata akhir hanya sebuah tanda Ujung pembayangan kita
Akhir kita : selesai Sedang Akhir-Nya abadi
Adakah engkau kira Awal dan Akhir Bagi-Nya berbeda?
Awal mula Tak terletak di dahulu kala Dan Akhir Bukan di kelak sana
Waktu bisa berpangkal ujung Tapi Ia, mengatasi segala hukum Tak seperti akhir kita yang fakir Akhir Allah bukan akhir Akhir Allah Tak Berakhir
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AWWAL (YANG MAHA AWAL MULA)

Sebelum apa pun ada Dialah awalnya
Sebelum awal ada Dialah mulanya
Dan sebelum mula tiba Dialah pendahulunya
Sang Maha Awal Lebih Awal Dari Paling Awal Paling Awal Dari Paling Awal Jauh Lebih Awal Dari Paling Awal Jauh Paling Lebih Awal Dari Maha Jauh Paling Lebih Awal
Gelap pandangan kita! Lenyap jejak kaki-Nya!
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL MUQTADIR( YANG MAHA PEMEGANG KEKUASAAN)

Karena yang menguasai semua kekuasaan hanya Ia, maka pastilah kekuasaan jumlahnya satu saja.
 Kekuasaan itu amat kokoh dan perkasa, sehingga setiap orang harus sangat berhati-hati dan tawadlu' di dalam mempergaulinya.
Kekuasaan itu senantiasa mengabdi kepada Tuannya, sehingga siapa saja yang mencoba menggantikan kedudukan Yang Empunya, lambat atau cepat kekuasaan itu akan memakannya.
Kita menjadi penguasa-penguasa kecil, sahabat-sahabat kita  menjadi penguasa-penguasa agak besar, dan beberapa oang lain menjadi penguasa-penguasa besar.
Alangkah berat tugas kita! Ini adalah tempat yang paling sukar  untuk menjaga kebeningan mata, karena acapkali terbalik memahami Penguasa yang sebenarnya.
Orang-orang yang dikuasai, bersujud syukur senantiasa, karena tiap hari mereka langsung belajar menjadi warga Allah Sang Maha Penguasa, yakni Dzat Yang Maha Mampu membuat kita binasa, namun Ia menguasai dengan sepenuh cinta.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL QOODIR (YANG MAHA MENENTUKAN)

Saudara-saudaramu menanyakan kenapa Ummat yang begini besar jumlahnya bagaikan terkantuk-kantuk saja dari masa ke masa Kenapa selalu ada  di bawah tempat duduk kehidupannya, kenapa selalu ompong giginya, kenapa tak berketentuan langkah kakinya, dan yang menyedihkan kenapa mereka sendiri tak mengetahui bahwa hal itu berlangsung pada diri mereka, sehingga begitu gampang diseret oleh tangan yang mengenggam batang leher mereka
Saudara-saudaramu mengemukakan bahwa mereka menjadi bingung dan putus asa, bahkan merasa Allah telah meninggalkan mereka, tak mengurusi nasib mereka dan tak memperhatikan derita hidup mereka
Maka engkau mengatakan kepada saudara-saudaramu itu bahwa jawabannya tak banyak : Allah bukan saja tidak meninggalkan mereka, bahkan Ia tak membiarkan  hamba-hamba-Nya menjadi manja, terlampau bergantung pada keajaiban kuasa-Nya serta memubadzirkan kemungkinan bahwa mereka bisa mengerjakan  perubahan diri mereka Engkau mengatakan  bahwa kuasa dan jaminan Allah senantiasa terbuka, tetapi hamba-hamba-Nya yang p…

REVIEW BUKU : 99 PESAN NABI