Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

PUISI : AR RASYIID (SANG MAHA PENABUR PETUNJUK)

"Ada logam mulia di ladangmu, emas namanya, ada juga batu-batu yang bisa engkau kuliti menjadi gemerlap permata
Pergilah menyisir hutan, masuki ketiak-ketiak bumi, panjat gunung, turuni lembah  serta menukiklah ke lantai samudera : kelupaslah bungkus-bungkus rahasia yang menyelimutinya
Tetapi dengar bahwa Kuciptakan bagimu tidak hanya satu macam samudera, satu jenis gunung, lembah, hutan dan ladang, melainkan beribu-ribu wujud dan nilainya : Ketahuilah  bahwa emas yang murni dan permata yang sejati terdapat hanya di dalam dirimu sendiri
Engkau bisa  menemukan, menghimpun  dan memperjualbelikan emas permata,  namun  Kuanugrahkan kecerdasan di akal budimu untuk mengolah apa saja  menjadi emas dan permata
Tak usah engkau khawatirkan akan kering kekayaanKu : emas ilmu dan pengetahuan, permata puisi dan kebijakan, atau apapun saja yang engkau perlukan untuk  kemajuan sejarah pengembaraanmu kepada-Ku, telah Aku tumpah ruahkan.
Cuma sekarang katakan : Kenapa tak engkau pedomani Aku, kenapa perjalananmu terhenti  di gun…

PUISI : AL BAAQI (YANG MAHA ABADI)

Setelah tiba rasa senang, esok pagi akan muncul angin pengap yang menanamkan  kekecewaan dan ketidaktentraman, namun kemudian nongol tiba-tiba angin yang lain lagi : bagai burung-burung ceria yang hinggap di pundakmu dan engkau pegang.
Setelah memancar cahaya pengetahuan, esok pagi matahari tak bangun dari peraduan : engkau pun jadi rabun dan hilang pegangan, namun kemudian  dari ufuk semangatmu terbit surya lain yang membuat mripatmu kembali bisa memandang
Setelah jiwa ditegakkan iman, esok pagi tiba dihadapanmu  tantangan yang membuat engkau diambil-alih oleh keputusasaan, namun kemudian  di ladang reruntuhan jiwamu membenih rahasia lain yang membangkitkan tubuhmu untuk tegak menatap lurus ke depan
Demikian yang engkau sebut kehidupan Yakni riak-riak gelombang Pasang dan surut, surut dan pasang Menjadi barisan mimpi kesementaraan,
Allah Yang Maha Abadi Melemparkanmu ke riuh samudera Timbul tenggelam, timbul tenggelam Agar engkau paham Ilmu mengasah keabadian.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"…

PUISI : AL BADII' (SANG MAHA PENCIPTA KEINDAHAN)

Alam pun cuma bisa diduga kulitnya Sejarah sibuk mencungkil-cungkil raganya Beribu kemajuan menjadi fatamorgana Gagal ditemukan ruhnya.
Para seniman tak bisa bikin alam Tak juga mampu menirunya Yang mereka sodorkan hanya kepalsuan Yang dibubuhi tanda tangan.
Di hadapan-Nya : pupus segala kata Patung meleleh, gambar hapus dan sirna Sang penyanyi yang berlagu, tidak mengisahkan-Nya Melainkan sekedar menguapkan bayang-bayangnya.
Selalu hadir Ia Di dalam dan di luar diri kita Sedemikian Nyata sosok ujud-Nya Namun hanya Ia jua yang mampu menatap-Nya Kita tinggal bisu : mengurai langit maya
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI :AL HAADII (SANG MAHA PENGUAK HIDAYAH)

Para pengusaha cemas akan bisa kehabisan kemampuan berproduksi, para seniman resah akan bisa kering ilham, untuk bikin lukisan dan puisi, para orang dan calon-calon orang gelisah akan bisa buntu jalan menuju esok hari Petunjuk Allah, sementara itu, memancar lebih dari cahaya seribu matahari, menghampar seribu kali sel-sel udara di segala penjuru bumi, menabur bagai gemercak hujan sepanjang zaman, berjumlah seperti  taburan bintang-bintang yang diganti setiap malam.
Di dalam Tuhan tidak ada kemelaratan : seolah-olah saja engkau dirundung kemiskinan, namun itu adalah ujud awal dari kekayaan yang sengaja Ia samarkan
Di dalam Tuhan tidak ada kesempitan, karena yang sejenak  terasa seperti kesempatan  itu adalah tanah subur menanam keluasan
Di dalam Tuhan tidak ada bakat alam, karena alam tak punya apa-apa untuk diberikan, karena jikapun masing-masing kita ini dijadikan seribu orang, tak bakal cukup juga untuk menampung ilham yang Ia selalu pertunjukkan.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya &q…

PUISI : AN-NAAFI' (SANG MAHA PENABUR MANFAAT)

Mereka yang dianugrahi kekayaan, akan memperoleh hikmah harta benda, atau kutukan emas permata
Mereka yang tak berpunya, akan mendapatkan nikmat ketidakpunyaan, atau kemelaratan yang sempurna
Mereka yang dirasuki matahari ilmu, akan mendapatkan cahaya untuk mewakili Tuhan, atau ditikam oleh bumerang pengetahuan
Mereka merasa awam, akan mengenyam rahmat keawaman, atau terpendam di kuburan ketidaktahuan
Siapapun,  yang sakit atau sehat, yang jalanan atau perpangkat, yang buntu atau sempat, yang berjaya atau sekarat
Allah memberikan kemanfaatan  yang tiada terhingga, yang sering tersembunyi letaknya : tetapi setiap orang berbeda di dalam mengenali karakter Tuhannya.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL MAANI' (YANG MAHA MELARANG)

Kusyukuri rejeki kegetiran, rejeki kekalahan, rejeki kemiskinan, rejeki kegagalan, rejeki kesakitan, rejeki ketersiksaan, rejeki keterpojokan, rejeki ujian,  cobaan atau pun kecelakaan
Kusyukuri dengan penuh keriangan,  seperti mensujudi turunnya hujan, atau ketika pohonku membenihkan buah-buahan
Makin tajam siksaan,  makin besar syukur kupersembahkan, dan ketika ia berakhir, kemudian diganti oleh sejuk belaian : kutambah jumlah sembahyang.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL MUGHNIY (YANG MAHA MENGANUGERAHI KEKAYAAN)

Ke rumah kediaman jiwamu Allah mengalirkan tiga macam kekayaan
Yang pertama ialah  kekayaan yang  terlampau banyak mengandung kemewahan, bagai gelembung-gelembung air yang melayang-layang memenuhi angkasa : amat banyak orang tergeragap dan silau matanya sehingga berdesak-desakkan  mereka hendak menangkapnya, karena tak mengetahui bahwa sesungguhnya warna-warni itu tak ada.
Kekayaan yang kedua ialah butiran-butiran ruh yang tiada berupa, yang terdapat jauh di balik gelembung yang mebeliakkan mata, bahkan terdapat di kandung pemandangan yang nampak bagai gelap gulita.
Adapun kekayaan ketiga, yakni yang tertinggi kedudukannya, ialah kekuatan Allah yang di percikkan ke dalam mata batin hamba-hamba-Nya yang mampu membuktikan bahwa seonggok batu bisa memancarkan cahaya, bahwa yang tiada itu sebenarnya ada, serta yang mampu merubah segala yang fakir menjadi kaya. kebanyakan orang menghabiskan usia untuk mengejar kekayaan yang pertama, yakni kekayaan yang seakan-akan saja merupakan kekayaan ; namun Allah tak pernah mengist…

PUISI : AR RO'UUF (SANG MAHA PEMANCARI KASIH SAYANG)

Akhirnya kumengerti bahwa apabila di panggung kehidupan ini Engkau letakkan kejadian yang membangkitkan amarah dan benci : itu adalah peluang bagiku buat memperoleh rasa cinta yang tertinggi.
Akhirnya kumengerti bahwa apabila muncul di hari-hariku sesuatu yang merangsang pamrih dan dengki : itu adalah kesempatan bagiku untuk mengolah pengabdian sejati.
Akhirnya kumengerti bahwa apabila ditampar aku oleh peristiwa yang menumbuhkan sikap kejam dan tangan belati : itu adalah anugrah bagiku untuk belajar menggenggam cinta kasih yang paling murni.
Dan akhirnya kumengerti, Kekasih, akhirnya kumengerti, bahwa apabila pada suatu hari Engkau buta gelapkan pandanganku : tak lain itu adalah isyarat agar aku tak lupa  memohon pencahayaan matahari-Mu.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AFUWW (YANG MAHA MENSUMBERI PEMAFAAN)

Allah menggariskan suatu cara bergaul yang amat lembut dan agung antara Ia dengan sekalian hamba-hamba-Nya
Telah ditetapkan-Nya  bahwa akan dihapuskan dosa-dosa kita, diminta ataupun tak diminta. Pertama karena tak seorangpun bisa terlepas dari dosa, Kedua kalaupun ada seorang hamba yang mampu hidup tanpa dosa, Ia tetap bisa memberi maaf kepada sesuatu yang selain dosa-dosa, yang entah apa, tetapi Ia dengan amat mudah mengarangnya. Dan ketiga,  peristiwa memaafkan itu sendiri adalaha suatu adegan kesenian yang paling tinggi tingkat mutunya. Seandainya kita memohon maaf atas segala kesalahan kita, itu bukan karena Ia hendak memamerkan kekuasaan dari harta-Nya  dengan cara memahalkan atau memurahkan pemaafan-Nya melainkan karena Ia tahu memohon maaf kepada-Nya  adalah kebahagiaan mutlak bagi batin kita. Dan seandainya  kita tak meminta maaf kepada-Nya, akan tetap dimaafkan-Nya juga kita, agar sesudah kita menyia-nyiakan  rasa nikmat meminta maaf, tetap dihadirkan-Nya kepada kita kemungkinan untuk bahagia.
Dikutip dari bu…

PUISI : AL MUNTAQIM (YANG MAHA MENETAPKAN BALASAN)

Orang yang merasa dipenjara oleh siksa dunia, terbiasa menggumamkan puja puji bagi Tuhan, karena keadaan yang terasa menyiksa  dalam kehidupan, sebenarnya bukanlah siksaan.
Orang yang merasa dibebaskan dari penjara milik kaum tiran, memperbanyak istighfar kepada Tuhan dan memohon perlindungan supaya terpelihara pengetahuannya atas penjara yang sesungguhnya.
Orang yang menyaksikan bencana alam, menghayati peristiwa-peristiwa yang dianggap merupakan pernyataan  dari amarah Tuhan, memperbanyak sembahyangnya agar ia tak terlalu mudah menyimpulkan yang dilakukan Tuhan.
Orang-orang itu, dengan rendah hati, mengembangkan pengertian, bahwa kebaikan dan keburukan, bahwa pahala dan siksaan, tidak bisa dipahami  tanpa terus menerus memohon petunjuk kebenaran dari Tuhan.
Orang-orang itu mengetahui bahwa siksaan yang sejati terjadi di neraka, dan pahala paling murni berada di sorga : yakni suatu tempat dan masa di mana  manusia tak lagi memiliki kemungkinan  untuk memilih jalan, untuk memperbaiki kesalahan atau membayar segala pe…

PUISI : AL MUTA'ALY (YANG MAHA MENINGGIKAN)

Tak berani kuucapkan kata apapun yang menyangkut ketinggian-Mu wahai Yang Maha Meninggikan, kecuali dalam keadaan bersujud dan dengan suara yang selirih-lirihnya Sekurang-kurangnya  dua kali tujuh belas kali dalam sehari : ketika itu mataku terpejam, segala kesombongan terbungkam, keningku menempel ke bumimu, membuat seluruh eksistensiku jadi debu
Siapakah aku sehingga berani menatapkan muka kepada-Mu, sehingga memiliki keberanian untuk mengangkat bah dan menengadahkan dada di hadapan-Mu? Wahai tamparlah mulut hamba, wahai campakkan hidup hamba sampai terkeping-keping, wahai cabik-cabiklah jiwa raga hamba jika shalat tak membuat hati hamba  berruku' dan bersujud kepada-Mu
Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Apa gerangan arti  Maha Suci Engkau Yang Maha Meninggikan Jika tak karena hamba adalah kerendahan  di tempat yang serendah-rendahnya? Maha Suci Engkau apakah gerangan makna Maha Suci Engkau, kalau bukan karena ketinggian adalah kesucian, sebagaimana kerendahan hamba adalah semata-mata kehinaan?
Wahai gerta…

PUISI : AL WAALIY (YANG MAHA MEMBERIKAN PERLINDUNGAN)

Seorang raja  yang berhasil memelihara kekuasaannya dalam waktu yang lama, menyangka bahwa ia telah lolos dari pengawasan Tuhannya.
Dan orang yang berada di bawah singgasana, yang hidup terjerat lehernya serta didesakkan ikat pinggangnya, meratapi Tuhan yang mereka kira telah meninggalkannya.
 Bagi Tuhan  kehidupan ini jauh lebih kecil dari debu yang sekecil-kecilnya dan lebih singkat dari satu kejapaan mata, tetapi kemerdekaan  yang diluangkannya bagi manusia lebih luas dibanding seribu cakrawala.
Maka setiap raja selalu paling malang nasibnya, karena tak pernah bisa ia karib dengan dirinya, sehingga tak cukup keringatnya untuk berlari ke Tuhannya
Sedangkan orang-orang  yang barisan kepala-kepala mereka dijadikan alas permadani di halaman istana, cukup hanya membisu saja untuk terbawa ke Istana yang sebenarnya.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AAKHIR (YANG MAHA AKHIR)

Adakah engkau pikir Ia, Sang Maha Akhir Di satu titik, akan berakhir?
Kata akhir hanya sebuah tanda Ujung pembayangan kita
Akhir kita : selesai Sedang Akhir-Nya abadi
Adakah engkau kira Awal dan Akhir Bagi-Nya berbeda?
Awal mula Tak terletak di dahulu kala Dan Akhir Bukan di kelak sana
Waktu bisa berpangkal ujung Tapi Ia, mengatasi segala hukum Tak seperti akhir kita yang fakir Akhir Allah bukan akhir Akhir Allah Tak Berakhir
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL AWWAL (YANG MAHA AWAL MULA)

Sebelum apa pun ada Dialah awalnya
Sebelum awal ada Dialah mulanya
Dan sebelum mula tiba Dialah pendahulunya
Sang Maha Awal Lebih Awal Dari Paling Awal Paling Awal Dari Paling Awal Jauh Lebih Awal Dari Paling Awal Jauh Paling Lebih Awal Dari Maha Jauh Paling Lebih Awal
Gelap pandangan kita! Lenyap jejak kaki-Nya!
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL MUQTADIR( YANG MAHA PEMEGANG KEKUASAAN)

Karena yang menguasai semua kekuasaan hanya Ia, maka pastilah kekuasaan jumlahnya satu saja.
 Kekuasaan itu amat kokoh dan perkasa, sehingga setiap orang harus sangat berhati-hati dan tawadlu' di dalam mempergaulinya.
Kekuasaan itu senantiasa mengabdi kepada Tuannya, sehingga siapa saja yang mencoba menggantikan kedudukan Yang Empunya, lambat atau cepat kekuasaan itu akan memakannya.
Kita menjadi penguasa-penguasa kecil, sahabat-sahabat kita  menjadi penguasa-penguasa agak besar, dan beberapa oang lain menjadi penguasa-penguasa besar.
Alangkah berat tugas kita! Ini adalah tempat yang paling sukar  untuk menjaga kebeningan mata, karena acapkali terbalik memahami Penguasa yang sebenarnya.
Orang-orang yang dikuasai, bersujud syukur senantiasa, karena tiap hari mereka langsung belajar menjadi warga Allah Sang Maha Penguasa, yakni Dzat Yang Maha Mampu membuat kita binasa, namun Ia menguasai dengan sepenuh cinta.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"