Skip to main content

PUISI : AL MUNTAQIM (YANG MAHA MENETAPKAN BALASAN)

Asmaul Husna - Al Muntaqim (Yang Maha Menetapkan Balasan) - (diujungzaman.blogspot.com)

Orang yang merasa dipenjara oleh siksa dunia,
terbiasa menggumamkan puja puji bagi Tuhan,
karena keadaan yang terasa menyiksa 
dalam kehidupan,
sebenarnya bukanlah siksaan.

Orang yang merasa dibebaskan dari penjara
milik kaum tiran,
memperbanyak istighfar kepada Tuhan
dan memohon perlindungan
supaya terpelihara pengetahuannya
atas penjara yang sesungguhnya.

Orang yang menyaksikan bencana alam,
menghayati peristiwa-peristiwa
yang dianggap merupakan pernyataan 
dari amarah Tuhan,
memperbanyak sembahyangnya
agar ia tak terlalu mudah menyimpulkan
yang dilakukan Tuhan.

Orang-orang itu, dengan rendah hati,
mengembangkan pengertian,
bahwa kebaikan dan keburukan,
bahwa pahala dan siksaan,
tidak bisa dipahami 
tanpa terus menerus memohon petunjuk kebenaran
dari Tuhan.

Orang-orang itu mengetahui
bahwa siksaan yang sejati terjadi di neraka,
dan pahala paling murni berada di sorga :
yakni suatu tempat
dan masa di mana 
manusia tak lagi memiliki kemungkinan 
untuk memilih jalan,
untuk memperbaiki kesalahan
atau membayar segala penyesalan.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"
Karya "Emha Ainun Nadjib"

Comments

Popular posts from this blog

MIKIR JERNIH : THE INTERNATIONAL 2018 – A CINDERELLA STORY FROM OG (PART 2 : FINALS)

PUISI : AL MU'MIN (YANG MAHA MENGAMANKAN)

Meskipun bumi ini tak ada pijakannya Melainkan terletak di ruangan hampa Tapi syukur bisa kita berdiri Dan tidur senyenyak -nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya Dan menindih keberadaan kita sampai tiada Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa Begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun malaikat bisa meraih bintang Dan melemparkannya beberapa ke kening kita Tapi syukur mereka hanya mengerjakan Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka Bahkan hidup dengannya tanpa kenal rahasianya Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku Ingin kutabur dan kutanam Pada pagi, pada siang, sore dan malam Agar tumbuh menjadi pepohonan Yang sulur dahan dan daun-daunnya Merambat ke pintu sorga.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu
Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"