Skip to main content

PUISI : AR RASYIID (SANG MAHA PENABUR PETUNJUK)

Asmaul Husna - Ar Rasyid (Sang Maha Penabur Petunjuk) - (facebook.com)

"Ada logam mulia di ladangmu, emas namanya,
ada juga batu-batu yang bisa engkau kuliti
menjadi gemerlap permata

Pergilah menyisir hutan, masuki ketiak-ketiak bumi,
panjat gunung, turuni lembah 
serta menukiklah ke lantai samudera :
kelupaslah bungkus-bungkus rahasia
yang menyelimutinya

Tetapi dengar bahwa Kuciptakan bagimu
tidak hanya satu macam samudera,
satu jenis gunung, lembah, hutan dan ladang,
melainkan beribu-ribu wujud dan nilainya :
Ketahuilah 
bahwa emas yang murni dan permata yang sejati
terdapat hanya di dalam dirimu sendiri

Engkau bisa 
menemukan, menghimpun 
dan memperjualbelikan emas permata, 
namun 
Kuanugrahkan kecerdasan di akal budimu
untuk mengolah apa saja 
menjadi emas dan permata

Tak usah engkau khawatirkan
akan kering kekayaanKu :
emas ilmu dan pengetahuan,
permata puisi dan kebijakan,
atau apapun saja yang engkau perlukan
untuk 
kemajuan sejarah pengembaraanmu kepada-Ku,
telah Aku tumpah ruahkan.

Cuma sekarang katakan :
Kenapa tak engkau pedomani Aku,
kenapa perjalananmu terhenti 
di gunung-gunung yang mematung,
engkau pelukis bumi,
serta kau sembah 
benda-benda emas permata yang mati?"

Demikian sabda-Mu,
barangkali
Jika boleh diraba
Oleh pikirku yang hina ini.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"
Karya "Emha Ainun Nadjib"

Comments

Popular posts from this blog

MIKIR JERNIH : THE INTERNATIONAL 2018 – A CINDERELLA STORY FROM OG (PART 2 : FINALS)

PUISI : AL MU'MIN (YANG MAHA MENGAMANKAN)

Meskipun bumi ini tak ada pijakannya Melainkan terletak di ruangan hampa Tapi syukur bisa kita berdiri Dan tidur senyenyak -nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya Dan menindih keberadaan kita sampai tiada Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa Begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun malaikat bisa meraih bintang Dan melemparkannya beberapa ke kening kita Tapi syukur mereka hanya mengerjakan Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka Bahkan hidup dengannya tanpa kenal rahasianya Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku Ingin kutabur dan kutanam Pada pagi, pada siang, sore dan malam Agar tumbuh menjadi pepohonan Yang sulur dahan dan daun-daunnya Merambat ke pintu sorga.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu
Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"