Skip to main content

PUISI : AL 'ALIIM (YANG MAHA MENGETAHUI)

Asmaul Husna - Al 'Aliim (Yang Maha Mengetahui) - (pinterest.com)

Segala peristiwa, bagiku, hanya hampa
Engkaulah yang mengajarkan
Apakah ia rejeki atau bencana

Dungu atau berilmu, bagiku, hanya bisu
Engkaulah yang memberitahu
Apakah ia sejati atau semu

Miskin atau kaya, itu fatamorgana
Engkaulah yang membukakan mata
Untuk tahu harta yang baka

Engkau...
Gusti...
Bertanya...
Kenapa rejeki disebut bencana?
Kenapa celaka dipujipuja?
Kenapa ilmu menelan manusia?
Kenapa miskin dianggap kaya?
Kenapa oleh maya terbelalak mata?
Beribu orang
Gagal memahaminya
Aku juga, Gusti, aku juga
Namun ada
Satu ilmu nyata
Jika kepada-Mu kutumpahkan jiwa raga
Tak ada bencana
tak ada miskin papa
Tak pernah sedih, tak sempat sia-sia
Sebab Engkaulah
Guru Yang Maha.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"
Karya "Emha Ainun Nadjib"

Comments

Popular posts from this blog

PUISI : AR ROZZAQ (YANG MAHA PENABUR REZEKI)

Andaikan cukup banyak orang  yang bersedia mengisi kehidupan dengan setia mencari bahan untuk mensyukuri kemahakayaan Tuhan Tentulah tak perlu kita bangun gedung yang terlalu tinggi, mesin-mesin industri, alat-alat muluk, konsumsi-konsumsi mewah yang hanya akan menjerat leher sendiri Namun inilah zaman dengan peradaban paling tinggi, di mana kebahagiaan dan kesejahteraan makin jauh untuk bisa digapai Inilah abad dengan kebudayaan paling gemerlap Di mana kesengsaraan manusia telah sampai pada titik paling mutlak dan rohani umat memasuki ruang yang paling gelap Inilah kurun sejarah  di mana rembulan telah bisa dijadikan layang-layang, di mana bumi digenggam cukup dengan alat satu dua inchi, di mana kemampuan perhubungan telah menjadi luas dunia menjadi satu mili, sehingga memungkinkan segala kebobrokan ini ditutup-tutupi. Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku. Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna&