Skip to main content

PUISI : AL KARIIM (YANG MAHA LUHUR)

Asmaul Husna - Al Kariim (Yang Maha Luhur) - (slideshare.net)

Sehari lima kali
Memohon pencahayaan
Sampai hilang ruang bagi kotoran
Untuk menghinggapi kehidupan

Dilatih kita berkorban
Bukan agar penuh jasa dan kebanggan
Tapi supaya ingat semua ini sekedar pinjaman
Kepada yang berhak Ia suruh sampaikan.

Kemudian sebulan kita belajar menahan
Agar siap tegak 
dalam puasa-puasa nyata kehidupan
Puasa di setiap gerakan,
saat memilih ruang
Puasa dari hujan godaan, puasa sepanjang zaman

Dan akhirnya tiba hari kemerdekaan
Di Ka'bah kita satukan jiwa telanjang
Bagi yang kotor, kehadirannya hanya badan
Ruhnya bersedih, tertinggal melayang-layang

Maka semoga
Sang Maha Pemurah
Berkenan menuntunnya kembali
Mengikrarkan Ia dan Muhammad
Meniti Cahaya Shalat
Susu Zakat
Arak Puasa
Serta Madu Haji
Yang disediakan-Nya

Comments

Popular posts from this blog

MIKIR JERNIH : THE INTERNATIONAL 2018 – A CINDERELLA STORY FROM OG (PART 2 : FINALS)

PUISI : AL MU'MIN (YANG MAHA MENGAMANKAN)

Meskipun bumi ini tak ada pijakannya Melainkan terletak di ruangan hampa Tapi syukur bisa kita berdiri Dan tidur senyenyak -nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya Dan menindih keberadaan kita sampai tiada Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa Begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun malaikat bisa meraih bintang Dan melemparkannya beberapa ke kening kita Tapi syukur mereka hanya mengerjakan Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka Bahkan hidup dengannya tanpa kenal rahasianya Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku Ingin kutabur dan kutanam Pada pagi, pada siang, sore dan malam Agar tumbuh menjadi pepohonan Yang sulur dahan dan daun-daunnya Merambat ke pintu sorga.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu
Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"