Skip to main content

PUISI : AL MAJIID (SANG MAHA PENYANDANG KEMEGAHAN)

Asmaul Husna - Al Majiid (Sang Maha Penyandang Kemegahan) - (pinterest.com)

Tatkala seseorang merasa kehausan
karena seseorang yang lain 
telah mencuri minumannya,
tahukah kita siapa di anatara keduanya
yang mengidam rasa haus yang sebenarnya?
Tahukah juga kita di mana letak kemurahan-Nya :
di dalam seteguk minuman
ataukah pada rasa haus 
sesudah berlangsung pencurian?

Tatkala seseorang merasa kelaparan
sebab orang lain merebut makanannya,
tatkala seseorang jatuh miskin
sebab orang lain merampas miliknya,
tatkala seseorang terlempar ke dalam tong sampah
sebab orang lain merampok hak-haknya,
tatkala seseorang terpojok
sebab orang lain menggusur tempatnya,
tatkala seseorang menangis
sebab orang lain menampar hatinya,
tatkala berjuta-juta orang membisu 
di tengah kesengsaraan
sebab raksasa tak mungkin bisa ditabraknya.

Tahukah kita siapa yang sesungguhnya sengsara,
siapa di antara keduanya
yang diam-diam digendong
oleh kemurahan Tuhannya?

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"
Karya "Emha Ainun Nadjib"

Comments

Popular posts from this blog

MIKIR JERNIH : THE INTERNATIONAL 2018 – A CINDERELLA STORY FROM OG (PART 2 : FINALS)

PUISI : AL MU'MIN (YANG MAHA MENGAMANKAN)

Meskipun bumi ini tak ada pijakannya Melainkan terletak di ruangan hampa Tapi syukur bisa kita berdiri Dan tidur senyenyak -nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya Dan menindih keberadaan kita sampai tiada Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa Begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun malaikat bisa meraih bintang Dan melemparkannya beberapa ke kening kita Tapi syukur mereka hanya mengerjakan Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka Bahkan hidup dengannya tanpa kenal rahasianya Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku Ingin kutabur dan kutanam Pada pagi, pada siang, sore dan malam Agar tumbuh menjadi pepohonan Yang sulur dahan dan daun-daunnya Merambat ke pintu sorga.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu
Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"