Skip to main content

PUISI : AL MUMIIT (YANG MAHA MEMATIKAN)

Asmaul Husna - Al Mumiit (Yang Maha Mematikan) - (kreazikita.blogspot.com)

Aku diajari melihat hidup mati
Seperti menatap perbedaan 
antara malam dan siang hari,
namun dari sumur-Mu
aku peroleh pengetahuan
bahwa mati bukanlah akhir kehidupan

Kematian demi kematian 
berlangsung di dalam kehidupan,
yakni tatkala hati dan pikiran,
lenyap di gelap hutan
buta dari cahaya yang Engkau pancarkan

Adapun jika dari tubuh,
nyawa dipisahkan :
itulah selangkah kaki menuju penjelasan-Mu 
atas hasil-hasil ujian yang panjang

Di kehidupan yang ini
Engkau menganugerahkan segalah peralatan
untuk memilih jalan,
di kehidupan berikutnya
aku tinggal berserah diri
kepada timbangan adil Peradilan

Sungguh mati bukan ujung hayat
 Mati ialah kehidupan di mana aku tinggal telanjang,
tak bisa menipu diri,
segala busuk wangiku
tak lagi mungkin kututup-tutupi

Jadi beribu syukur kepada-Mu kucicilkan,
atas rahmat kematian 
demi kematian dalam kehidupan

Dengan itu 
berlatihlah aku untuk mempersiapkan :
kalau izrail datang nanti,
telah kubersihkan diriku 
dari segala sampah dan kotoran.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna"
Karya "Emha Ainun Nadjib"

Comments

Popular posts from this blog

MIKIR JERNIH : THE INTERNATIONAL 2018 – A CINDERELLA STORY FROM OG (PART 2 : FINALS)

PUISI : AL MU'MIN (YANG MAHA MENGAMANKAN)

Meskipun bumi ini tak ada pijakannya Melainkan terletak di ruangan hampa Tapi syukur bisa kita berdiri Dan tidur senyenyak -nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya Dan menindih keberadaan kita sampai tiada Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa Begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun malaikat bisa meraih bintang Dan melemparkannya beberapa ke kening kita Tapi syukur mereka hanya mengerjakan Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka Bahkan hidup dengannya tanpa kenal rahasianya Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku Ingin kutabur dan kutanam Pada pagi, pada siang, sore dan malam Agar tumbuh menjadi pepohonan Yang sulur dahan dan daun-daunnya Merambat ke pintu sorga.

Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"

PUISI : AL BASHIR (YANG MAHA MELIHAT)

Tiada hal yang perlu kuperlihatkan kepada-Mu, Gustiku, Karena Engkau adalah Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya memperlihatkan itu pun tak lain adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang persembunyian niscaya milik-Mu jua, dan kalaupun sesekali aku berusaha menyembunyikan sesuatu maka daya menyembunyikan itu hanyalah hasil pencurianku atas hukum-Mu
Pernah kupasang topeng-topeng di wajahku, kulapiskan pakaian di badanku, kubungkuskan kepura-puraan  dihamburan kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan juga topeng-topeng penipu, tak lain itu adalah petunjuk agar aku berjuang melepaskan dan mencampakannya : Supaya aku peroleh Engkau Di akhir pengembaraanku.
Dikutip dari buku "Syair-Syair Asmaul Husna" Karya "Emha Ainun Nadjib"